Pengunjug baru saja beberapa menit yang lalu aku posting sebuah puisi pada situs http://www.myquran.org/ di thread kumpulan puisi myqers, tuts-tus terpencet begitu saja mengalir laksana air dengan aliran yang lambat tapi pasti, atau bagai angin yang bertiup sepoi, dalam puisi ini ada kesedihan, manakala melihat kemaksiatan menjamur disana, sini, tidak memandang siapa, para rakyat jelata, melakukan maksiat, para pejabat apalagi, sungguh fenomena yang memiriskan hati.
belum lama ini, ada seorang ayah menjual anak gadisnya demi tuntutan ekonomi, belum lama ini juga pelajar SMP membuang bayinya di toilet sebuah tempat wisata. masih jelas pula sepak terjang para pejabat terlibat dalam rekayasa, kongkalikong, dan tutup menutupi, dan tolong menolong dalam kasus tewasnya nasrudin direktur PT Rajawali Putra Banjaran.
ya,...mungkin bumi menangis, tergugu, dengan tangis yang berupa aungan, tidakah kita melihat ayat-ayat Allah tanda peringatan itu, bencana, petaka dimana-mana, ayat-itu sangat dekat dan nyata namun kita saja yang telah dilengkapi indera dan hati tidak mampu menggunakannya untuk mengambil pelajaran darinya.
Sungguh bumi memerlukan penyelamat, para abid, para hamba Allah yang ikhlas, karena sabda nabi Muhammab SAW, tidak akan diturunkan kiamat manakala, masih ada orang-orang yang berdzikir masih ada pemimpin yang adil, masih ada pemuda yang hatinya terikat dimesjid, ya...bumi memerlukan pertolongan...
====================================================================
Jasa Para Abid
Detik ini bumi masih bergebira
selaksa adzan masih menggema
berjuta dzikir masih terukir
berjuta sujud tapaknya masih berbekas
berjuta petuah masih sja tertumpah,
ruah,
Detik ini bumi, gelisah,
selaksa maksiat menjamur,
berjuta selingkuh, semakin kukuh
berjuta kebohongan, meraja,
berjuta dengki, iri, hasut, takabur, sombong,
bumi, masih ada asa, disela ratap tangisnya,
selamtkan aku, rintihnya, memelas,
selamatkan aku, rintihnya, memelas,
selamatkan aku, rintihnya, memelas,
airmata bumi nan suci tertumpah,
rintihnya jika lamat-lamat menjadi aungan
hai jiwa-jiwa abid yang suci selamatkan aku,
tebar kebaikan, dari addien yang agung,
karena saat itu pasti tiba
tidak, jangan sekarang
saat bumi berguncang dengan seguncang-guncangnya
saat gunung bercerai dari bumi, secerai-cerainya,
hambur, terbang, gemuruh,
saat dimana dzikir tak lagi terdengar,
adzan tak lagi bergema,
sujud telah musnah, bahkan bekasnya pun nihil
saat petuah adalah hal yang dibenci.
Abi Faqoya
mantewe 27-05-09
Selasa, 26 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar