Tampilkan postingan dengan label setetes embun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label setetes embun. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 September 2013

Segala Nikmat dari Allah SWT, maka rasa Terimakasih Harus Untuk Allah SWT



Sahabat Setetes Embun Bening yang berbahagia,…. Dalam setiap hari tanpa kita sadari Allah SWT selalu memberikan nikmat kepada kita semua, maka sudah sepantasnyalah kita mengucapkan syukur hanya kepadaNYA,  ucapan terimakasih kepada Zat yang menurunkan nikmat-nikmat ini, aduhai  jika kita mau menghitungnya, ada beribu-ribu nikmat yang kita rasakan dari mulai bangun tidur dipagi hari hingga tidurlagi dimalam hari, tidak dapat kita membantah apalagi mendustakan nikmat-nikmat tersebut, hal ini sudah dituliskan oleh Allah SWT dalam Alqur’an Surat Ar-rahman :13

 “maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”, karena memang nikmat Allah sudah terbukti dan tidak dapat kita dustakan.

Dalam membahas tentang nikmat ada dua hal besar yang harus kita perhatikan yaitu sumber nikmat itu, dan kepada siapa kita berterimakasih setelah di berikan nikmat itu,dalam hal ini ada sebuah doa yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, yaitu :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ
اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنْكَ وَحْدَكَ
لَا شَرِيكَ لَكَ فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ
فَقَدْ أَدَّى شُكْرَ يَوْمِهِ وَمَنْ قَالَ مِثْلَ ذَلِكَ
حِينَ يُمْسِي فَقَدْ أَدَّى شُكْرَ لَيْلَتِهِ






Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Barangsiapa di pagi hari membaca doa: “Ya Allah, apa saja ni’mat yang kuterima pagi ini adalah dariMu semata. Tidak ada sekutu bagiMu. Maka bagiMu segala puji dan bagiMu segenap terimakasih”, maka sungguh ia telah penuhi kewajiban bersyukurnya hari itu. Dan barangsiapa mengucapkannya di waktu sore, maka sungguh ia telah penuhi kewajiban bersyukurnya malam itu.” (HR Abu Dawud )

 Subhanallah.... amat beruntungnya kita dengan mengucap kalimat tersebut kita akan diberikan kebaikan hamba yang bersyukur dalam sehari semalam : Kalimat yang isinya sebagai berikut:

 اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنْكَ وَحْدَكَ

لَا شَرِيكَ لَكَ فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ



 “Ya Allah, apa saja ni’mat yang kuterima pagi ini adalah dariMu semata. Tidak ada sekutu bagiMu. Maka bagiMu segala puji dan bagiMu segenap terimakasih”. (HR Abu Dawud)

 Jika ia membacanya di waktu sore redaksi berubah sedikit menjadi sebagai berikut:

اللَّهُمَّ مَا أَمْسَى بِي مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنْكَ وَحْدَكَ
لَا شَرِيكَ لَكَ فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ



 “Ya Allah, apa saja ni’mat yang kuterima sore ini adalah dariMu semata. Tidak ada sekutu bagiMu. Maka bagiMu segala puji dan bagiMu segenap terimakasih”. (HR Abu Dawud )

  Dalam dzikir tersebut terbagi menjadi dua hal pokok yaitu pengakuan kita bahwa semua yang kita dapatkan di hari ini baik pagi maupun petang adalah semata dari Allah SWT, dan segala puji kita hanya ditujukan pada Allah SWT

riwayat lainnya ada tambahan teks dalam wiridnya sehingga menjadi:

 اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ

 فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ


 “Ya Allah, apa saja ni’mat yang kuterima pagi ini atau dari salah satu makhlukMu, maka itu  adalah dariMu semata. Tidak ada sekutu bagiMu. Maka bagiMu segala puji dan bagiMu segenap terimakasih”. (HR An-Nasai )

 Jika dibaca di waktu sore menjadi:
 اللَّهُمَّ مَا أَمْسَى بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ
فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ



 “Ya Allah, apa saja ni’mat yang kuterima sore ini atau dari salah satu makhlukMu, maka itu adalah dariMu semata. Tidak ada sekutu bagiMu. Maka bagiMu segala puji dan bagiMu segenap terimakasih”. (HR An-Nasai)

Wirid ini jika kita resapi mengandung makna yang sangat dalam, seharusnya akan membawa kita pada suatu pemahaman kuat bahwa semua nikmat hanya dari Allah SWT dan segala rasa terimakasih kita hanya untukNYA, maka dengan keyakinan kuat ini seharusnya sudah mampu membentengi kita dari kemungkinan “terbeli” oleh fihak manapun, wirid ini membentengi diri kita dari situasi di zaman sekarang ini, dimana banyak fihak yang “menanam budi” kemudian mengambil keuntungan demi kepentingannya, tidak jarang dalamkehidupan sehari –hari kita temukan hal-hal seperti ini, dimana kita ditawarkan pada kebaikan seseorang, atau kelompok, atau organisasi, baik itu organisasi social kemasyarakatan, perusahaan, atau organisasi politik.  Bagi orang yang berkeyakinan kuat seperti dalam wirid dzikir tadi maka ia hanya memuji dan berterimakasih pada Allah SWT semata.

Seorang beriman tidak akan selalu menerima atau menolak pemberian orang lain jika ia menolak itu adalah cerminan dari ‘iffah atau menjaga kehormatan dirinya, ia tidak mau terbebani dengan tertanam budi seseorang, kemudian merasa harus berterima kasih pada sipemberi, yang terkadang menyimpan maksud-maksud agar merasa terhutang budi kemudian merasa tak enak hati untuk menolak keinginan sipemberi  yang akan diutarakannya di belakang hari.

Budaya seperti ini, sudah merasak dalam kehidupan zaman sekarang, seorang pengusaha tak segan mengeluarkan uang tidak sedikit untuk diberikan sesuatu kepada para penentu kebijakan disuatu daerah, dengan harapan sipenentu kebijakan akan mengeluarkan kebijakan yang berpihak padanya. Naudzubilahimindzalik kita berlindung kepada Allah dari hal sedemikian, budaya sogok-menyogok sudah umum di Negara ini, hampir disemua bidang kehidupan, tak terkecuali dalam proyek-proyek yang berbau ibadah,

Coba kita tengok kehidupan para pendahulu kita, kita intip sebuah kisah khalifah Umar Abdul Aziz, sewaktu para pembesar dari para pembesar mengirimkan aneka pakaian dan perhiasan kepada Istri Beliau, karena itu adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukan mereka setelah tidak berhasil meluluhkan hati Sang Khalifah, namun apa Khalifah Umar “kembalikan semua itu kepada mereka!!”, dan apa jawab Sang Khalifah sewaktu sang istri protes, “ mereka tidak akan mungkin mengirimkan semua itu jika Umar bukan seorang khalifah”,

Aduhai begitu hati-hatinya khalifah Umar bin Abdul Aziz akan pemberian dari fihak lain, Beliau faham betul resiko yang akan Beliau tanggung jika hadiah-hadiah itu diterimanya, akan berakibat kebijakannya akan terbeli, perkataannya akan terbeli, dan hatinya akan terbeli, sehingga Beliau tidak dapat berlaku adil sesuai dengan kebenaran.

Oleh karena itu meresapi kandungan dari doa dan dzikir ini, seharusnya semakin menguatkan kita bahwa tidak ada sang pemberi kecuali Allah SWT, dan tidak ada yang wajib kita berikan rasa terimakasih kita kecuali Allah SWT,
Disadur dan digubah dari tulisan Ustadz Ihsan Tanjung,

Allahua’lam
Sang Penetes Embun

Selasa, 06 Agustus 2013

Dr. Muhammad Syafii Antonio: Ramadhan Seperti Tamu Agung yang Dinanti-Nantikan



Sahabat Setetes Embun Bening yang berbahagia.. berikut kami teteskan setetes embun bening, dari sumber yang menyegarkan yaitu www. Swaramuslim .net tentang kisah masuknya Dr Muhammad Syafii Antonio, pakar ekonomi syariah Indonesia... selamat menikmati semoga menyegarkan...

Dalam usia belia pakar ekonomi Syari'ah Dr. Muhammad Syafii Antonio menjadi mualaf meski ditentang keras oleh keluarganya yang menganut agama Kong Hu Chu.

Sejak pertama kali menjalan ibadah puasa di bulan Ramadhan ia selalu menetapkan target-target antara lain bisa mengkhatamkan al-Qur'an sebanyak tiga sampai empat kali dan dalam membaca beberapa buku selama satu bulan penuh selama Ramadhan.

"Perasaan ketika menyambut Ramadhan, seolah-olah seperti menyambut kedatangan tamu agung yang dinanti-nantikan, karena Islamnya baru, jadi semangatnya masih tinggi," katanya pada eramuslim saat ditemui di sela-sela kesibukannya dalam kegiatan Ramadhan di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Ia mengaku, setelah satu bulan memeluk agama Islam, sekitar tahun 1984-1985, di usianya yang baru memasuki 18 tahun ia sudah langsung bisa membaca Al-Qur'an dengan lancar dan selalu menyempatkan membacanya setiap hari, bukan hanya pada bulan Ramadhan. Khusus pada bulan Ramadhan, Ia berusaha membacanya maksimal setengah juz sehabis sholat sehingga target tersebut dapat terlampaui.

"Namanya juga target, kadang terpenuhi kadang tidak, pernah suatu ketika, karena sudah mendekati Idul Fitri, masih tersisa 10 juz, sementara di rumah saya mati lampu, karena ingat harus selesai, akhirnya saya melanjutkan bacaan dengan bantuan penerangan lampu minyak tanah, saya membaca al-Qur'an semalaman, ketika sadar pagi harinya, hidung saya hitam semua terkena asap lampu minyak, tapi akhirnya beres juga," kenangnya sambil tertawa.

Ustadz Syafii mengatakan, ketika ia masuk Islam, semua teman-temannya sebayanya langsung tahu. Maklumlah, saat itu ia termasuk pemuda yang sangat aktif mengikuti berbagai pertandingan badminton antar Sekolah Menengah Atas (SMA) di Sukabumi.

"Karena mereka tahu dulunya saya anak Chinesse, ketika saya ke Masjid banyak yang pada melihat terutama anak wanita, lalu mereka berkata, 'Wah si cokin sudah Islam ya'," kisahnya.

Syafii mengaku sangat berat waktu pertama kali menjalankan ibadah puasa, karena ia harus menjalaninya seorang diri, di tengah lingkungan keluarga yang mayoritas non muslim. Ia juga mendapat tentangan keras dari kedua orang tuanya, namun Ia mencoba bersabar dalam menjalani ke-Islamannya. Saat itu ia berkeyakinan, karena perbedaan pandapat pada awal menjadi mualaf merupakan sunatullah.

"Dalam kehidupan terdapat perbedaan pendapat dan persepsi, kadang harus kita jalani dengan berat hati, tetapi saya coba untuk bersabar menjalaninya, karena cobaan yang saya alami belum seberapa dibandingkan cerita para sahabat yang sering saya baca," ungkap suami dari Mirna Rafki ini.

Ia mencoba memetik hikmah dari kemandiriannya. Ketika memutuskan untuk menjadi seorang Muslim, Syafii Antonio tidak lagi diakui anak oleh kedua orang tuanya. Oleh sebab itu, ia pun meninggalkan rumah dan berhasil mendapakan beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya.

"Saya pergi ke Pesantren An-Nizhom di Salabintana, Sukabumi, kemudian di sana saya mendapat bantuan tempat tinggal, meneruskan sekolah, mengaji dan setelah itu saya belajar ceramah, ilmu bahasa, tafsir dan hadist," ujar pria kelahiran 12 Mei 1967.

Setelah itu, Syafii sering ikut ustadznya berceramah di sana-sini. Karena rajinnya menyimak dan mencatat, hingga suatu saat ustadznya berhalangan, ia mencoba memberanikan diri berceramah menggantikan sang ustadz hingga sekarang Syafii dikenal sebagai da'i selain dikenal sebagai seorang pakar ekonomi Syari'ah.

Ia mengatakan, kebiasanya membaca sejak usia balita membuat dirinya dipaksa dewasa lebih cepat. Selama dua tahun sebelum memeluk Islam, ia melakukan kajian terhadap Islam dengan membaca buku tentang perbandingan agama.

"Buku perbandingan agama itulah yang menggiring saya untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang muncul. Saya membacanya berulang-ulang hingga sampai pada suatu kesimpulan, bahwa Islam itu agama yang komprehensif, mendorong persamaan ras dan komprehensif mengatur kehidupan rumah tangga, bisnis, ekonomi, politik, hukum, bahkan mulai dari bangun tidur sampai masuk kamar mandi dan memimpin parlemen ada aturannya," papar ustadz penggemar masakan Sunda ini.

Lantas bagaimana dengan bulan Ramadhan kali ini? Apalagi yang masih menjadi obsesinya?

Menjawab pertanyaan itu, Syafii hanya mengatakan bahwa ia akan berusaha mengaplikasikan takwa dalam bentuk yang terukur. Yakni dapat membedakan halal dan haram yang menirutnya persoalan ini sering dilupakan oleh kita sebagai manusia.

"Salah satu penyakit terbesar bangsa ini adalah tidak memperdulikan mana yang halal dan yang haram. Tapi dengan berpuasa kita didorong untuk menghindari yang haram, belajar disiplin stop makan dan minum, memiliki jiwa amanah, karena merasa diawasi oleh Allah dan juga berusaha membangkitkan respons sosial melalui ibadah zakat dan shodaqoh, serta yang terpenting adalah bagaimana saya dapat mewujudkan la’allakum tattaquun," tandas Ustadz Syafii menutup perbincangan dengan eramuslim. (novel/ln/eramuslim)

Diteteskan dari sumbernya: berita mualaf www.swaramuslim.net

Sabtu, 03 Agustus 2013

Berilmu dan Berkarya untuk Allah SWT.




Sahabat Setetes Embun Bening yang berbahagia.. coba lihat gambar tersebut kreatif bukan.. gambar itu adalah sebuah karya, buatan seseorang,  yang admin dapatkan dari facebook, sebuah hasil karya yang bukan hanya dapat di dikmati oleh sipembuat tetapi juga dapat di nikmati oleh orang lain, bahkan selain dapat dinikmati karya ini juga mengandung nilai-nilai dan syiar Islam, yang pastinya dapat menambah tabungan pahala bagi sipembuat, juga bagi orang-orang yang meneruskan kepada orang lain. 

Gambar tersebut ,merupakan salah satu contoh penggunaan kemampuan/ilmu dan teknologi yang diperuntukkan untuk kemaslahata orang banyak, sebenarnya itulah hakekat Ilmu, karena ilmu tanpa amal adalah kesiaan belaka, seperti debu yang banyak namun tidak ada manfaatnya sama sekali.  Salah satu pertanyaan dalam yaumul hisab adalah ilmu kita yang digunakan untuk apa?, marilah sekarang sebelum ditanya di yaumul hisab, dimana tidak ada lagi yang mampu menolong kita, bahkan anggota tubuh kita sendiri sudah tidak taat pada kita, tangan akan bersaksi, kaki akan menyampaikan kebenaran, demikian juga dengan anggota tubuh yang lain, telinga, mata, sudah tidak lagi berkompromi dengan kita, mereka hanya menyampaikan kebenaran lain tidak, nah sebelum berjumpa dengan hari seperti itu marilah kita Tanya diri kita sekarang, apakah ilmu, dan teknologi yang kita miliki sudah kita gunakan bagi kebaikan, atau sebaliknya, jika sudah bermanfaat bagi orang lain, bergembiralah kita dan teruslah berkarya untuk kebaikan, tetapi jika tidak atau bahkan hasil karya kita adalah jenis hasil karya yang menyebabkan orang lain mendapat kerugian, misalnya mendapat dosa karnanya, beristighfarlah dan bertubat pada Allah SWT, kemudian hentikan aktifitas tersebut, dan gantilah dengan karya-karya yang bermanfaat bagi kebaikan diri sendiri juga orang lain. 



Dalam perkembangan zaman ini, ilmu dan teknologi juga berkembang sanga pesat, perkembangan iptek ini jika tidak diringi dengan peningkatan akhlaq manusianya, maka yang terjadi adalah kehancuran, sebaliknya perkembangan iptek yang diringi dengan peningkatan akhlaq akan menimbulkan kemaslahatan bagi umat.  Dimasyarakat umum ada istilah the man behind the gun, kegunaan sebuah senjata sangat tergantung dari siapa orang dibelakang senjata itu, senjata itu dapat untuk membunuh orang yang tidak bersalah dan lemah, dapat juga bermanfaat untuk melindungi orang-orang yang lemah, itulah hakekat ilmu dan teknologi ia adalah sekedar alat yang sangat bermanfaat bagi kita atau menjadi boomerang bagi kita. 

Dengan ilmu dan pengetahuan itulah kita bekerja, dan kita memang diperitahkan untuk berkarya yang bermanfaat seperti dalah firman Allah SWT surat attaubah: 105 

“Bekerjalah kamu, maka Allah SWT, Rasulnya dan orang Mukmin akan melihat pekerjaan kamu itu, dan kamu akan kembali kepada Allah SWT, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan, 

Dalam ayat tersebut ada beberapa hal yang akan disampaikan oleh Allah SWT, yaitu: berkaryalah kita, atau lebih tepatnya kita disuruh berkarya, tentunya dengan ilmu dan keahlian yang kita miliki , dan Allah SWT, Rasulnya dan orang-orang sekitar kita akan melihat hasil karya kita , saat ayat ini diturunkan Rasul masih hidup sehingga termasauk Beliau menyaksikan hasil kaya para sahabat, untuk kita sekarang Allah SWT dan orang-orang sekitar kita akan melihat hasil karya kita,mereka menikmati, bahkan ada yang menyebarkan hasil karya kita itu untuk orang banyak ,  dan ingat juga pada saatnya kita akan kembali kepada Allah SWT, dengan diperlihatkan hasil karya kita itu, oleh karena itu marilah kita gunakan ilmu yang kita miliki untuk suatu karya yang dapat di lihat, dan bermanfaat bagi orang banyak, sehingga dapat dengan bangga kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT,  

Jika kita seorang pejabat penentu kebijakan maka arahkan kebijakan kita  untuk kemaslahatan orang banyak, gunakan pangkat dan kedudukan kita dalam rangka mensyiarkan, serta mengagungkan nama Allah SWT, bukan sebaliknya menciptakan kebijakan yang akanmenjauhkan rakyat dari Allah SWT, kebijakan- kebijakan yang bertentangaan dengan syar’I.

 jika kita seorang seniman barkaryalah kita untuk mengagungkan agama dan Asma Allah SWT, bukan menciptakan karya seni yan menabrak aturan-aturan Allah SWT, seperti filim-film tak bermoral, lukisan-lukisan serta karya-karya foto dan video pengumbar syahwat, yang akan menyerert penikmat seni yang kita buat kepada maksiat dan berbuat dosa,

Jika anda seorang programmer kumputer, atau seorang web desainer, ciptakanlah program-program computer atau situs-situs yang mengaggungkan nama Allah Swt,mengajak pada kebaikan,  bukan menciptakan program-program semisal game yang merusak akhlaq anak-anak bangsa kita, atau menciptakan situs-situs biru dan porno, yang akan menjadi virus yang sangat ampuh untuk menggerogoti moral dan mental anak-anak bangsa kita, 



Ingatlah bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan pasti akan mendapat  balasannya baik itu kejahatan ataupun kebaikan, jika kebaikan yang kita lakukan maka pahala akan kita dapatkan namun jika kejahatan yang kita kerjakan maka dosalah yang kita dapatkan, dan yang lebih parah lagi jika kebaikan, atau keburukan itu diikuti oleh orang lain maka kita akan dapat balasannya dan ditambah dengan balasan orang lain yang mengikuti kita itu,  hal ini diterangkan dalam hadist berikut: 

Siapa saja yang mencontohkan di dalam Islam contoh yang baik maka untuknya pahalanya dan pahala siapa saja yang melakukannya setelah dia karena mencontohnya tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun. Siapa saja yang mencontohkan di dalam Islam contoh yang buruk maka atasnya dosanya dan dosa siapa saja yang melakukannya setelah dia karena mencontohnya tanpa berkurang dosa mereka sedikitpun (HR Muslim, Ahmad, Ibn Majah dan an-Nasa’i).

Dalam hadist diatas jelas disebutkan bahwa keburukan atau kebaikan yang kita tularkan kepada orang lain jika orang tersebut menularkannya kepada orang lain pula maka pahala atau dosa yang dilakukan orang-orang tersebut akan jatuh kepada kita

Sahabat Embun Bening, Oleh karena itu berhati-hatilah kita semakin banyak orang yang mengikuti keburukan dari kita akan semakin banyak dosa yang mengalir kepada kita dan jika keburukan itu dilakukan terus menerus maka selama keburukan itu dilakukan oleh orang lain dosanya akan terus mengalir kepada kita. 

Dan sebaliknya berbahagialah kita jika banyak orang yang melakukan kebaikan lantaran kita maka pahala akan mengarlir dan sepanjang orang mengerjakan kebaikan tersebut pahala itu akan terus mengalir.

Oleh karna itu ilmu yang bermanfaat yang menghasilkan karya yang bermanfaat akan terus-dan terus membawa kebaikan bagi kita, karya yang bermanfaat akan membawa keberkahan sepanjang masa menjadi amal jariah, bahkan walaupun kita sudah mati sekalipun tambahan pahala akan terus mengalir kepada kita sepanjang ilmu itu, demikian pula sebaliknya ilmu yang dimanfaatkan untuk hasil karya yang tidak bermanfaat bahkan membawa karusakan bagi orang lain maka dosanya akan terus-dan terus mengalir untuk kita bahkan sampai kita mati sekalipun dosa itu akan terus mengalir untuk kita sepanjang jasil karya kita dinikmati dan diteruskan oleh orang lain..


Sahabat Setetes embun bening yang berbahagia.. marilah kita hentikan penggunaan kemampuan, skill kita untuk menghasilkan hasil karya yang merusak, menimbulkan kehancuran moral, kejahatan dan lain-lain, karena amat besar harga yang dipertaruhkan yaitu kebahagiaan kita di akherat … untuk anda pengelola situs-situs perusak akhlaq, hasil-hasil seni yang melanggar syariah..  hentikanlah sekarang juga, karena kebahagian anda diakherat dipertaruhkan hanya untuk hal yang seperti itu..

Wallahu A’lam 

Banjar Baru - Kalsel 
Sang Penetes Embun



Kamis, 01 Agustus 2013

Kebiasaan Ikut Puasa di Bulan Ramadhan, Mengukuhkan Keinginan Cahyono untuk Memeluk Islam

Sahabat setetes embun bening yang budiman berikut kami teteskan setetes embun tentang kisah Cahyono Pelawak senior yang masuk islam kami teteskan dari situ www. eramuslim.net  kisah ini untuk dapat kita ambil pelajarannya... semoga menyejukkan...

"Sebelum masuk Islam, saya sering ikut puasa Ramadhan," kata Cahyono H. Muhammad Cahyono , salah satu pelawak senior, mengaku sudah merasakan kenikmatan berpuasa di bulan suci Ramadhan seperti layaknya seorang muslim, sejak ia belum masuk Islam.

"Dengan berpuasa kita dapat menjaga hawa nafsu, amarah, dan pada saat berbuka puasa itu rasanya indah sekali, padahal waktu itu saya belum muslim," ujarnya membuka perbincangan dengan eramuslim di sela kesibukannya shooting, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Cahyono, anggota group lawak Jayakarta yang tenar di era tahun 80'an mengaku sering mendapat teguran dari sahabatnya, ketika menjalankan puasa dengan status belum menjadi seorang muslim.

"No, kamu percuma saja puasa cuma dapat lapar dan haus saja, soalnya kamu bukan muslim," kata Cahyono menirukan ucapan sehabatnya saat itu. Namun dirinya tidak mengindahkan teguran tersebut dan hanya menjawab, "Tidak apa-apa, biar saja, saya merasa nikmat kok."

Selanjutnya, selama dua tahun Ramadhan sebelum mengukuhkan diri masuk Islam Cahyono selalu menjalankan puasa Ramadhan, meskipun tidak satu bulan penuh.

Cahyono merasa dengan berpuasa dirinya belajar dan mengenal apa itu agama Islam dan dia merasakan nikmatnya menjadi lengkap setelah memutuskan memeluk agama Islam pada tahun 1992.

"Wong masih kafir saja sudah merasa nikmat, apalagi setelah Islam, betul-betul pengendalian," tandas Cahyono, yang rajin menjalankan ibadah sholat sunnah selain sholat wajib ini.

Ketika ditanya apakah kebiasaan berpuasa yang menjadi latar belakang dirinya memutuskan memeluk Islam. Cahyono mengungkapkan bukan karena itu saja, yang mendorongnya untuk menjadi seorang Muslim, tapi keyakinannnya akan kebenaran Islam.

Sejak tahun 1987, ia sudah melakukan studi banding antara al-Qur'an dengan Injil. Dan sampailah ia pada kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang benar. "Best of the Best al-Qur'anul Karim," lanjut pria kelahiran Banyuwangi 26 Desember 1951 yang mengaku tak berat lagi menjalankan puasa saat pertama kali menjadi mualaf.

Meng-Islamkan Orang Islam


Cahyono sangat bersyukur dengan ke-Islamannya saat ini. Menurutnya orang yang paling kaya adalah orang yang bisa menikmati dan mensyukuri sesuatu, termasuk menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya.

Ditanya soal persiapannya untuk bulan Ramadhan tahun ini, ia menyatakan persiapan Ramadhan sudah dilakukannya sejak bulan Rajab dengan memperbanyak puasa dan berdoa kepada Allah, agar dipertemukan dengan Ramadhan kembali.

"Ya Allah, berikanlah umur panjang supaya aku dapat bertemu dengan Ramadhan tahun ini," doanya. Doa seperti itu selalu ia panjatkan ketika bulan Ramadhan akan segera berakhir, bahkan terkadang sampai bercucuran air mata karena harus kehilangan bulan pengampunan itu.

Cahyono menyatakan, target Ramadhan kali ini adalah makin meningkatkan kadar keimanan, ilmu agama, baca al-Qur'an dan berdakwah keliling masjid harus dapat dilakukannya pada Ramadhan tahun ini.

"Ramadhan kemarin saya cukup sibuk, Insya Allah semua tempat sudah terjelajahi dari Kalideres sampai Kalimalang, termasuk Jawa Timur," ujar Cahyono sambil tertawa bahagia.

Soal targetnya hidupnya di masa depan sebagai seorang Muslim, dengan nada lirih Ia mengatakan ingin meng-Islamkan orang Islam, karena banyak orang Islam yang hatinya belum Islam.

"Saya suka sedih, Islam itu kan nikmat tetapi kadang orang Islam tidak bisa menikmatinya," tegasnya prihatin. Kondisi seperti itu membuat hatinya sangat trenyuh.

Bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas untuk memperoleh pahala sebanyak-banyaknya dan meraih cintanya Allah. Oleh karena itu Cahyono mengajak seluruh umat Islam untuk menjadi Muslim yang kaffah, Muslim yang sempurna secara keseluruhan.

Baginya bulan puasa adalah bulan perjuangan, kesempatan emas untuk meraih rahmat dari Allah. Kepada seluruh umat Islam Cahyono berpesan jadikan Ramadhan ini seakan-akan yang terakhir, siapa tahu kita tidak bisa dengan Ramadhan yang akan datang.

"Marilah kita bertobat, minta ampun, merebut cintanya Allah dan kesempatan emas dalam Ramadhan yang penuh rahmat," ajaknya menutup perbincangan dengan eramuslim. (novel/ln/eramuslim )

Diteteskan dari sumber aslinya eramuslim.net

Senin, 29 Juli 2013

Berita Bohong, dan azab bagi penyebarnya....



Sahabat Setetes Embun Bening yang budiman….Diceritakan dua orang eksekutif sedang bercakap-cakap di ruang kerja mereka,  salah seorang dari mereka  adalah tamu sebutlah namanya Agus  , pada suatu sore di Bulan Ramadhan, mereka ngabuburit sambil berdiskusi beberapa hal,  kira-kira beberapa saat menjelang waktu berbuka, sang tuan rumah yang bernama Anto memanggil OB bernama Amir , untuk membelikan makanan di Rumah Makan Padang seberang kantornya, karena waktu mendesak Pak Anto  hanya menanyakan pesanan sang tamu, sedangkan untuk dirinya dia hanya berkata “ seperti biasa, sajalah!”. Singkat cerita datanglah pesanan tersebut, “ lho mir… kenapa kamu tidak belikan makanan kesukaanku?’ Pak Anto bertanya, si Amir menjawab, Bapak sih mesennya tidak pake otak!!,… Pak Agus kaget Beliau tidak terima temannya di lecehkan oleh OBnya sendiri,.. seketika dia membentak OB tersebut..”Heh.. kalo bicara yang sopan dong.. kamu tuh siapa?, yang kamu ajak bicara siapa?, kamu harus tahu sopan santun”, si OB keheranan dia tidak merasa bersalah, mengapa kok teman Pak Anto tahu-tahu marah kepadanya, kemudian beberapa hari kemudian muncullah berita bahwa amir adalah OB yang kurang ajar, dan berani melecehkan Pak Anto staff yang mempunyai kedudukan tinggi di kantor ini, sehingga Amir di acuhkan dalam pergaulannya dan mendapat predikat berakhlaq buruk dan tidak disukai oleh para pimpinan di kantornya,, untung saja Pak Anto mendengar hal ini dan meluruskan kejadian yang sebenarnya dengan sabar  Pak Anto menjelaskan kepada semua orang di kantornya  “si Amir itu tidak salah , dia hanya menjawab pertanyaanku,  aku kan Tanya mengapa kamu tidak belikan makanan kesukaanku, dia menjawab karena aku mesannya tidak pake otak.. karena memang kesukaanku itu adalah otak, itu loh otak dengan bumbu kuning khas minang”. Hingga semua paham dan nama baik amir sebagai OB kembali bersih.  

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita mengalami kesalahan seperti kisah diatas, kerap kali kita berlaku seperti Agus, tanpa investigasi dan penyelidikan terhadap sebuah informasi, langsung mengambil kesimpulan, dan menyebarkannya kepada orang lain, padahal banyak sekali kenyataan yang tidak sesuai dengan yang kita dengar atau kita lihat, dalam kisah diatas si Agus sebagai tamu di kantor Pak Anto kawan baiknya,  merasa tersinggung karena kawannya dilecehkan oleh OB di kantornya sendiri, sebuah kesimpulan atas inforasi yang salah akan sangat berdampak dahsyat bagi diri kita maupun bagi orang lain, kesimpulan Pak Agus yang salah atas jawaban OB tadi, apalagi menyebarkan kabar yang tidak benar  sangat  merugikan sang OB, padahal kenyataan sebenarnya tidak seperti yang didengar oleh Pak Agus, untung saja Pak Anto  menjelaskan duduk perkaranya.

Sahabat setetes embun bening… oleh karena itu kita seharusnya tidak menelan bulat-bulat suatu informasi yang datang kepada kita, harus terlebih dahulu kita teliti kebenaran informasi tersebut. Jika ternyata berita yang kita dengar adalah berita bohong,  kemudian tanpa penyelidikan kita mempercayai berita itu, bahkan termasuk orang yang menyebarkan berita itu maka kita akan mendapat dosa, dan azab Allah SWT, hal ini tertuang dalam firman Allah SWT dalam Alqur’an Surat Annur ayat 11:

 Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”.


Kejadian yang mendasari turunnya ayat tersebut adalah beredarnya berita bohong, Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah S.A.W. 'Aisyah R.A. Ummul Mu'minin, sehabis perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya'ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula 'Aisyah dengan Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri Beliau. Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. 'Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa 'Aisyah masih ada dalam sekedup.

 Setelah 'Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat dia duduk di tempatnya dan mengaharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan ibnu Mu'aththal, diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, isteri Rasul!" 'Aisyah terbangun. Lalu dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Kemudian kaum munafik membesar- besarkannya, maka fitnahan atas 'Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.

Dalam ayat 11 surat Annur tadi jelas Allah SWT berfirman bahwa bagi penyebar berita bohong akan mendapat dosa yang akan berakibat pada azab Allah SWT, oleh karena itu kita menghindar dari akhlaq sedemikian, di lain pihak bagi sikorban sesungguhnya berita bohong itu, baik baginya asalkan ia bersabar dan bertaqwa kepada Allah SWT dalam mensikapinya. 

Amat besar kebencian Allah SWT terhadap para pendusta, pencela, dan penghasut serta pengedar berita bohong, kalau saja tidak karena rahmatNYA maka semua pelaku penyebar berita bohong pasti akan di azab oleh Allah SWT, hal itu ditegas kan oleh Allah SWT dalam firmanNYA:

Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.(QS Annur:14- 15)

Sungguh agung akhlaq Islam, kita tidak diperbolehkan, menghasut, mencela, dan memfitah, karena akan berdampak buruk yang sangat dahsyat kepada orang yang kita fitnah dan pelakunya akan mendapat dosa dan azab Allah SWT,

Sahabat Setetes Embun Bening yang berbahagia.. dalam era globalisai sekarang ini. Arus informasi bergerak sangat cepat sekali, suatu kejadian di belahan bumi dapat dengan cepat menyebar ke belahan bumi yang lain, namun harus diingat tidak semua dari berita yang disuguhkan oleh media semisal radio, televisi atau media online, adalah benar, banyak sekali kepentingan-kepentingan di balik berita yang disiarkan oleh mereka, sekali lagi kehati-hatian kita dalam menyerap informasi sangat diperlukan, apalagi berita – berita yang datang kepada kita apalagi jika berita yang menyangkut saudara-saudara kita umat Islam harus kita cermati betul-betul sebagaimana firman Allah SWT: 

“ Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata."(QS Annur: 12), atau firman Allah berikut:

 “Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar." (QS Annur:16) 
 
Dalam ayat ini Allah SWT menyuruh kita beberapa hal yaitu, berhati-hati, teliti, dalam menerima informasi , selanjutnya adalah mangedepankan husnudzon prasangka tidak bersalah, terhadap segala sesuatu, dan melarang kita untuk menelan bulat-bulat info tersebut bahkan menjadi penyebarnya naudzubillahi mindzalik.

Sahabat setetes embun bening yang berbahagia, ….sering  dalam jejaring social seperti facebook, kita membagi/share suatu berita kepada kawan-kawan kita, atau di twitter kita mentwitnya untuk kawan-kawan follower kita, setelah kajian ini marilah kita lebih selektif melakukannya jangan sampai kita termasuk orang –orang yang dimaksud oleh Allah SWT dalam kalimat terakhir surat  Annur ayat 11,

Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”. 

karena dengan menshare atau mentwit berarti kita membantu mereka menyebarkan berita bohong yang merugikan orang lain,  Sungguh celakalah kita jika kita termasuk dalam golongan mereka
  
Marilah kita bersikap hati-hati, dan selektif terhadap berita-berita yang kita terima apalagi berita seperti tentang saudara – saudara kita di Palestina, atau yang saat ini sedang gencar di beritakan saudara-saudara kita di Mesir, yang informasinya banyak diputarbalikan, demi kepentingan tertentu, atau berita dari belahan bumi yang lain, baik sekala nasional maupun internasional, janganlah kita mencari informasi dari satu sumber media, tetapi carilah dari beberapa sumber sehingga kita dapat informasi yang berimbang.

Wallahu a’lam
Sang Penetes Embun