Pengujung yang budiman hanya sekitar 3 menit yang lalu aku posting sebuah puisi di www.myquran.org situs kesayanganku, puisi singkat namun padat, coba anda lihat puisi yang gempal, penuh makna,
episode benci
Gelombang dahsyat, bergulung, tiada henti
dalam nadi mengempur lemahnya rongga yang sempit
tiap debit darah selalu merah, lewat merangsek,
bak tentara semangat perang
rongga sempit semakin besar,
tiap alirannya menambah debitnya, menambah merahnya
saat panca indera tangkap keganjilan peradaban
saat hati semakin resah, akan angkara yang meraja
ingin kucabik kanvas peradaban dengan asaku
ku pijak, ku injak, dengan sebalah kaki kananku
kuludahi, dengan semburan kebencianku
abi faqoya
mantewe 06-06-09
Episode benci aku menyebutya begitu, seperti halnya puisi-puisiku yang lain, proses pembuatannya begitu cepat, secara reflek jari jari ini menari, tak terkonsep tertuang begitu saja apa yang ada di kepala eh di hati ini. kusebut episode banci karena saat ini aku sedang benci sekali, dengan peradabanku sendiri, setelah aku membaca buku Sirah Nabawiyah, kok jauh sekali perbedaan karakteristik zamanku dengan zaman Rasul yang Mulia.
kadang kesal, dan protes mengapa aku tak terlahir pada zaman itu ya,.., tidak tidak boleh begitu, kehadiranku pada zaman ini adalah anugrah terindah dari allah SWT. namun mengapa aku dilahirkanpada zaman dimana kemaksiatan meraja, durhaka dimana-mana, degradasi moral, dan nilai, sungguh jauh dengan syariah.
pada saat kemaksiatan di depan mata hanya darah yang berdesir, mengalir deras sampai keubun-ubun...
Gelombang dahsyat, bergulung, tiada henti
dalam nadi mengempur lemahnya rongga yang sempit
tiap debit darah selalu merah, lewat merangsek,
bak tentara semangat perang
dan semakin sering kulihat, semakin menjadi, semakin deras, gelisah,
rongga sempit semakin besar,
tiap alirannya menambah debitnya, menambah merahnya
saat panca indera tangkap keganjilan peradaban
saat hati semakin resah, akan angkara yang meraja
sehingga rasa itu timbul, semakin besar, ingin kucabik-cabik dengan tanganku
ingin kucabik kanvas peradaban dengan asaku
ku pijak, ku injak, dengan sebalah kaki kananku
kuludahi, dengan semburan kebencianku
ingin rasanya turut andil dalam mewarnai peradaban ini, walau hanya setetes warna yang kupunya, ya hanya setetes mungkin tak berarti jika dibanding dengan pekatnya kanvas peradaban yang saat ini teramat pekat, ...hitam...kelam...
Sabtu, 06 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar