Senin, 01 Juni 2009

Gonjang-ganjing Buku Ilusi Negara Islam

Belum lama ini di luncurkan sebuah buku berjudul ILUSI NEGRA ISLAM, peluncurannya oleh tiga tokoh Gusdur, Syafii Maarif, dan Ahmad Mustofa Bisri berikut kutipan dari Inilah Com

Gus Dur Luncurkan Buku 'Ilusi Negara Islam'
Windi Widia Ningsih
(inilah.com)
INILAH.COM, Jakarta - Mantan presiden RI Abdurrahman Wahid bersama mantan Ketua Umum Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif dan tokoh NU A Mustofa Bisri meluncurkan buku dan seri video. Buku dan video ini bertujuan untuk melestarikan tradisi dan budaya bangsa indonesia yang santun dan toleransi berdasarkan nilai-nilai agama.

Buku setebal 321 halaman ini diberi judul 'Ilusi Negara Islam' dengan sub judul 'Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia'. Bagian depan buku ini terdapat gambar Soekarno-Hatta dengan lambang pancasila (burung garuda) diatasnya. Selain itu pada bagian bawa juga terdapat ormas islam yang sedang berdemo.

"Studi ini kami lakukan dan publikasikan untuk membangkitkan kesadaran seluruh komponen bangsa, khususnya para elit dan media masa. Tentang bahaya ideologi dan paham garis keras yang dibawa ke tanah air oleh gerakan transnasional timur tengah dan tumbuh seperti jamur di musim hujan dalam era reformasi kita," kata Abdurrahman Wahid yang tertulis dalam siaran pers, Sabtu (16/5) malam.

Ketiga tokoh ini menegaskan pentingnya melestarikan Pancasila, UUD 1945 dan NKRI serta nilai-nilai luhur agama yang menjiwai bagunan bangsa dan negara Indonesia, yang selama ini dibayang-bayangi oleh infiltrasi paham dan aksi-aksi gerakan transnasional yang meresahkan. Demi tujuan tersebut mereka menyerukan persatuan dan kerjasama semua pihak dan lapisan masyarakat.


Buku ini merupakan hasil penelitian lapangan dan konsultasi selama lebih dari dua tahun. Sementara objeknya sendiri meliputi 24 kabupaten di 17 provinsi ini melibatkan 30 peneliti yang berasal dari jaringan UIN/IAIN.


Dalam penyusunan buku ini peneliti telah melakukan wawancara mendalam terhadpa 591 responden yang berasal dari 58 kelompok dan organisasi yang berbeda. Sedangkan seri video yang diberi judul 'Lautan Wahyu'. Video ini merupakan hasil dari interview dengan para ulam dan intelektual dalam dan luar negeri mengenai aspek-aspek ajaran islam yang selama ini dipahami secara salah kaprah.


Lautan Wahyu ini diharapkan bisa membuka pikiran dan hati serta memperluas wawasan tentang ajaran islam, agar bisa terwujud sebagaimana mestinya. Buku dan seri video sekaligus menyajikan counter teologis atas idiom-idiom dan terminologi keagamaan yang selama ini sering digunakan oleh gerakan ekstremis transnasional untuk merekrut simpati dan dukungan dari umat Islam. [win/ton]


Bagaimana reaksi khalayak dlam menanggapinya, sangat beragam reaksi keras dilontarkan oleh beberapa pihak yang merasa tertuding, seperti misalnya Partai Keadilan Sejahtera, dan Hizbutahrir Indonesia,


reaksi keras PKS seperti terkutip dalam Inilah Com Berikut :


PKS : PENULIS BUKU, ANTEK-ANTEK BUSH
INILAH.COM, Jakarta - Buku berjudul 'Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia' yang menyebutkan PKS sebagai bagian dari gerakan Islam garis keras transnasional ditolak oleh PKS. Partai dakwah itu menuding, para penulis buku itu merupakan antek-antek dari mantan Presiden AS George W Bush.
"Dugaan saya, dana riset buku itu didapatan dari Bush. Itu merupakan proyek terakhir Bush sebelum kejatuhannya. Karena Bush memiliki kebijakan perang melawan terorisme," ujar Wasekjen PKS Fahri Hamzah kepada INILAH.COM di Jakarta, Rabu (8/4).

Menurut Fahri, tulisan-tulisan yang ada pada buku itu masih mengacu pada framework dunia saat Bus masih jadi Presiden AS. "Padahal kan framework dunia sudah berbeda dan tuduhan-tuduhan tentang PKS itu semuanya palsu. Saat ini dunia sudah mulai tidak terlalu menyoroti isu terorisme, bahkan dunia sudah menilai Bush sebagai penjahat perang," katanya.

Fahri mengatakan, melalui buku itu antek-antek Bush di Indonesia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa di Indonesia itu tidak aman. "Bahwa di Indonesai ini ada kekuatan yang ingin membentuk negara islam dan tidak ada lagi negara Indonesia yang demokratis. Kan ngawur itu yang nulis. Ini jelas dapat menghancurkan Indonesia di mata dunia," ungkapnya.

Fahri menilai, orang-orang yang menulis buku itu hanya mencari makan darai keuntungan yang dihasilkan. "Mereka itu cari makan mas. Kasian saya sama anak-anak muda ini yang cari makan dengan memanfaatkan orang tua seperti Gus Dur. Jangan cari makan dengan mengadu domba orang lain dong, cari makan dengan cara yang halal," pungkasnya.

Dalam kata pengantar buku itu yang ditulis oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur), memaparkan bahwa PKS telah melakukan infiltrasi ke Muhammadiyah pada Muktamar Muhammadiyah Juli 2005 di Malang. Saat itu, para agen kelompok garis keras seperti PKS mendominasi banyak forum dan berhasil memilih beberapa simpatisan gerakan garis keras menjadi Ketua PP Muhammdiyah.

Buku tersebut diterbitkan atas kerjasama Gerakan Bhineka Tunggal Ika, the Wahid Institute dan Maarif Institute. Buku itu merupakan hasil penelitian yang berlangsung lebih dari dua tahun dan dilakukan oleh LibForAll Foundation. Yang menjadi editor dalam buku itu adalah Gus Dur dan yang menjadi penyelaras bahasanya adalah Mohamad Guntur Romli. [mut/ton]

Tak kalah keras HTI juga berkomentar seperti yang ditulis dalam situs resmi mereka separti berikut:

KETERANGAN PERS :
BANTAHAN HIZBUT TAHRIR INDONESIA TERHADAP BUKU ILUSI NEGARA ISLAM
Buku Ilusi Negara Islam : Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, yang diluncurkan beberapa waktu lalu itu sebenarnya tidak layak dibaca apalagi ditanggapi. Meski diklaim sebagai karya ilmiah, dan konon merupakan hasil penelitian selama dua tahun, namun semuanya itu tidak bisa menutupi fakta, bahwa buku ini sangat tidak ilmiah dan jauh dari obyektivitas sebuah penelitian.

Alih-alih bersikap obyektif, buku ini justru dipenuhi dengan ilusi, kebencian dan provokasi penyusunnya. Inilah yang mendorong kami untuk menanggapi buku ini, khususnya yang berkaitan dengan Hizbut Tahrir, sebagai berikut :

Dari aspek metodologi :
Pertama, dari sisi referensi: Buku ini sama sekali tidak menggunakan referensi utama (primer), yaitu buku-buku resmi Hizbut Tahrir. Satu-satunya referensi resmi yang digunakan adalah booklet Selamatkan Indonesia dengan Syariah, itu pun tampaknya hanya dicomot judulnya. Selebihnya, pandangan dan sikap penyusun buku tersebut tentang Hizbut Tahrir didasarkan pada kesimpulan-kesimpulan yang dibangun oleh Zeno Baran dalam bukunya, Hizb ut-Tahrir: Islam’s Political Insurgency (Washington: Nixon Center, 2004) dan Ed. Husain dalam bukunya, The Islamist (London: Penguin Books, 2007). Mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, bahwa baik Zeno Baran yang berdarah Yahudi maupun Ed. Husain adalah sama-sama bukan orang yang ahli tentang Hizbut Tahrir. Ed. Husain yang diklaim sebagai salah seorang pimpinan Hizbut Tahrir terbukti bohong, yang memang sengaja dibangun untuk menunjukkan kredebilitas karyanya, yang sesungguhnya tidak kredibel.

Dari sini saja, sebenarnya cukup untuk membuktikan, bahwa buku Ilusi Negara Islam ini sebenarnya tidak ilmiah dan jauh dari obyektivitas. Karena itu, kesimpulan-kesimpulan yang dibangun di dalamnya tidak lebih dari ilusi penyusunnya. Bahkan, buku ini juga sangat narsis, karena kebencian dan provokasi yang ditaburkan di dalamnya mulai dari awal hingga akhir. Tampak jelas, bahwa buku ini disusun dengan target, bukan sekedar untuk mengemukakan pandangan, tetapi untuk memobilisasi perlawanan.

Kedua, cara menarik konklusi : Konklusi di dalam buku ini banyak ditarik dengan menggunakan analogi generalisasi (qiyas syumuli), sehingga menganggap semua kelompok dan organisasi yang nyata-nyata berbeda, seperti DDII, MMI, PKS dan HTI sebagai sama. Ini adalah bukti, bahwa buku ini tidak obyektif. Lebih-lebih ketika, sejak pertama kali, penyusun buku ini sudah melakukan monsterisasi terhadap Wahabi, kemudian mengeneralisasi bahwa semua organisasi Islam yang tidak sepaham denganya dicap Wahabi.

Ini jelas merupakan kesalahan berpikir yang sangat fatal, dan kalau tujuannya untuk mengungkap kebenaran, maka cara-cara seperti ini tidak akan pernah menemukan kebenaran apapun. Ketiga: inkonsistensi cara berpikir: Buku ini menyerang cara berpikir literalisme tertutup, tetapi pada saat yang sama penyusun buku ini menggunakan teks hadits, dengan makna literal, dan sangat tertutup, karena tidak mau melihat nas-nas yang lain. Seperti, Umirtu an uqatila an-nas hatta yaqulu la’ilaha illa-Llah (Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, hingga mereka menyatakan la’ilaha illa-Llah), yang kemudian ditafsirkan, bahwa ini tidak berarti boleh memerangi orang Kafir, karena tidak ada penegasan tentang keyakinan akan kerasulan Muhammad saw.

Dari aspek isi : Buku ini menawarkan: Pertama, Islam yang toleran, tapi anehnya penyusunnya sendiri dengan sangat narsis tidak toleran dengan sesama Muslim, dengan terus-menerus menyerang mereka sebagai kaum literalis tertutup, dan stigma-stigma negatif lainnya. Di sisi lain, ketika mereka sendiri tidak bisa bersikap toleran terhadap kaum Muslim, mereka malah menyerukan toleransi terhadap kaum Kafir, dengan justifikasi bahwa mereka adalah Muslim juga. Malah, ayat dan hadits yang memerintahkan untuk memerangi mereka pun harus ditafsir ulang agar sejalan dengan maksud mereka. Jadi, nalar yang dibangun dalam buku ini jelas sekali, sangat tidak konsisten.

Kedua, perdamaian dan Islam yang damai, tapi penyusun buku ini justru menyulut bara api yang sudah padam, seperti sejarah kelam Khawarij dan Wahabi yang sudah dilupakan oleh kaum Muslim. Dalam kasus Wahabi, jelas sekali bahwa ini dimaksud untuk mengadudomba antara NU dan kelompok lain yang dicap Wahabi, karena generasi tua NU memiliki memori yang tidak baik terhadap Wahabi. Lalu, di mana wajah Islam damai yang mereka tawarkan? Cara-cara yang mereka lakukan ini persis seperti yang dilakukan oleh Syasy bin Qaisy, penyair Yahudi, yang mengingatkan kembali permusuhan antara suku Aus dan Khazraj dalam Perang Bu’ats. Kalau betul mereka menginginkan perdamaian, mestinya bisa bersikap seperti ‘Umar bin ‘Abdul Aziz ketika ditanya tentang Perang Shiffin, dengan tegas beliau menyatakan, "Ini adalah darah yang telah dibersihkan oleh Allah dari tanganku, maka aku tidak ingin membasahi lidahku dengannya lagi."

Ketiga, ilusi, kebencian dan provokasi: Meski konon merupakan hasil penelitian, tetapi penyusun buku ini tidak bisa membedakan antara fakta dan ilusi. Sebagai karya ilmiah, seharusnya buku tersebut jauh dari kebencian, dan apalagi provokasi yang sangat narsis. Karena itu, isi buku ini akhirnya terjebak pada kepentingan sponsornya, dan sama sekali jauh dari obyektivitas ilmiah, lazimnya sebuah karya ilmiah.

Dari aspek penyusun dan penerbitnya: Sebagaimana diakui oleh Abdurrahman Wahid, buku ini adalah hasil penelitian Lib-ForAll Foundation, sebuah LSM yang memperjuangkan terwujudkan kedamaian, kebebasan dan toleransi di seluruh dunia. Abdurrahman Wahid bersama C. Holland Taylor bertindak sebagai pendiri bersama, sementara bersama-sama KH A. Mustofa Bisri, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Por. Dr. M. Amin Abdullah, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Porf. Dr. Nasr Hamid Abu-Zayd, Syeikh Musa Admani, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, Dr. Sukardi Rinakit dan Romo Franz Magnis Suseno menjadi penasehat LSM tersebut.

Mereka selama ini dikenal sebagai tokoh Liberal. Bersama sejumlah peneliti lapangan, mereka menyusun buku Ilusi Negara Islam ini, yang kemudian diterbitkan bersama oleh the Wahid Institute, Maarif Institute dan Gerakan Bhineka Tunggal Ika. Lib-ForAll Foundation sendiri bermarkas di AS, dan didirikan pasca peristiwa 11/9, dengan tujuan untuk memerangi apa yang mereka sebut Radikalisme Agama. Tokoh-tokoh Lib-ForAll Foundation di Indonesia juga mempunyai hubungan baik dengan Israel, dan sangat membela kepentingan entitas Yahudi itu. Sebaliknya, mereka selama ini dikenal bersikap sumir terhadap syariah, formalisasi syariah dan kelompok Islam yang memperjuangkan syariah.

Adapun tuduhan terhadap Hizbut Tahrir sebagai kelompok yang membahayakan Indonesia, adalah sebuah kebohongan besar. Hizbut Tahrir dengan perjuangan syariah dan Khilafah justru bertujuan untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan akibat Sekularisme, Liberalisme, Kapitalisme dan penjajahan modern di segala bidang.

Sebaliknya, Liberalisme dan Sekularisme yang selama ini mereka propagandakan itulah yang telah nyata-nyata merusak dan menghancurkan Indonesia. Atas dasar Liberalisme pula, mereka mendukung aliran sesat (Ahmadiyah, Lia Eden, dll), legalisasi aborsi, menolak larangan pornografi dan pornoaksi, mendukung penjualan aset-aset strategis. Maka, merekalah yang sesungguhnya harus diwaspadai, karena mereka menghalangi upaya penyelamatan Indonesia dengan syariah, dengan tetap mempertahankan Sekularisme dan penjajahan asing di negeri ini.
Wassalam,
Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia
Muhammad Ismail Yusanto
Hp: 0811119796 Email: Ismaily@telkom.net This email address is being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it
(Sumber : keterangan pers Nomor: 161/PU/E/05/09Jakarta, 25 Mei 2009 M/30 Jumadil Awwal 1430 H)
http://www.hizbut-tahrir.or.id/

Nah lainlagi tanggapan dari para penelitinya, mereka merasa hasil karyanya disalah gunakan, hal ini seperti di sampaikan oleh republika.co.id dalam kutipan berikut:

PERNYATAAN SIKAP ATAS BUKU ILUSI NEGARA ISLAM
YOGYAKARTA --

Sejumlah peneliti yang namanya tercantum sebagai kontributor dalam buku Ilusi Negara Islam, Dr Zuli Qodir, Abdur Rozaki MSi, Laode Arham SS, Nur Khalik Ridwan SAg, memprotes terhadap buku 'Ilusi Negara Islam' yang diterbitkan The Wahid Istitute, Maarif Institute dan Gerakan Bhineka Tunggal Ika. Menurut mereka, buku tersebut tidak sesuai dengan apa yang mereka teliti dan isinya mengadu domba umat Islam.

Di bawah ini kopi siaran pers pernyataan sikap keempat peneliti: Berkaitan dengan terbitnya buku Ilusi Negara Islam yang mengundang kontroversi, dengan ini kami ingin memberikan klarifikasi sekaligus pernyataan terkait dengan substansi buku tersebut:

1. Materi (isi) buku yang disajikan di dalamnya bukanlah hasil riset dan karya kami dan karena itu kami tidak mungkin mengakui sebagai hasil penelitian kami. Padahal di dalam buku tersebut kami disebut sebagai peneliti.
2. Di dalam proses penerbitan buku tersebut, kami tidak pernah diajak dialog di dalam proses menganalisis data dan membuat laporan penelitian sampai penerbitan menjadi sebuah buku.
3. Bahkan dalam proses pengumpulan data, beberapa nama yang di buku tersebut dicantumkan sebagai peneliti, jauh hari sudah mengundurkan diri, yakni saudara Nur Khalik Ridwan dan Abdur Rozaki, sehingga tidak terlibat lagi di dalam tahapan penelitian selajutnya, mulai dari pengumpulan data, analisis data, penulisan laporan sampai pada penerbitan buku.
4. Kami melihat buku "Ilusi Negara Islam" itu, tujuannya telah bergeser dari riset yang semula bertujuan akademik pada tujuan politis dengan cara tetap mencantumkan nama-nama peneliti yang sebelumnya sudah mengundurkan diri namun namanya tetap dicantumkan sebagai peneliti (dan menyimpang dari desain awal penelitian).
5. Kondisi ini diperkuat oleh kesaksian hampir semua peneliti daerah yang namanya tercantum di dalam buku tersebut tidak pernah pula diajak untuk berdialog untuk menganalisis data temuan di lapangan dalam kerangka laporan hasil penelitian yang utuh. Para peneliti daerah namanya dicatut hanya sebagai legitimasi politis dari kepentingan pihak asing sebagaimana yang dilakukan oleh Holland Taylor dari Lib for All, Amerika Serikat yang begitu dominan bekerja di dalam kepentingan riset dan penerbitan buku ini.
6. Kami menuntut kepada pihak Lib for All agar menarik peredaran buku tersebut jika tetap mencantumkan nama-nama kami.

Kami menghimbau kepada para peneliti dan intelektual Indonesia untuk lebih berhati-hati dan tidak mudah diperalat dan dimanipulasi oleh kepentingan agen intelektual asing yang bekerja di Indonesia tercinta.

Yogyakarta, Jumat, 25 Mei 2009
Atas nama yang dicantumkan sebagai peneliti dalam buku "Ilusi Negara Islam"Dr. Zuli QodirAbdur Rozaki, M.SiLaode Arham, S.S.Nur Khalik Ridwan,S.Aghttp://republika.co.id/berita/52460/Pernyataan_Sikap_atas_Buku_Ilusi_Negara_Islam

wah-wah kok begini, silahkan anda periksa lagi dari berbagai sumber (tabayun), sehingga dapat kesimpulan yang pas, kalu menurut aku sih, apa salahnya orang yang memperjuangkan syariat islam, dan penegakan hukum islam dalam setiap aspek kehidupan, agama adalah aturan untuk mengatur kehidupan ini, yang sangat sempurna dari hal yang terbesar hingga hal yang terkecil, termasuk didalamnya kehidupan berpolitik dan bernegara.

dalam hal ini aku belum bisa beropini deh,..aku cari data dulu baru dapar beropini mungkin pada postinganku setelah ini (mungkin lho..)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar