Rabu, 03 Juni 2009

Kok ada Islam Garis Keras dan non Garis Keras...???

Gonjang-ganjing terjadi, suhu perpolitikan islam di Indonesia memanas, apakah yang terjadi, ternyata suhu itu memanas disebabkan oleh sebuah buku, buku yang sedang menjadi buah bibir, …ya, karena banyak bibir yang membicarakannya, diskusi banyak digelar setelah peluncuran buku itu oleh tiga tokoh yaitu mantan presiden RI KH Abdurrahman Wahid, mantan ketua umum Muhammadiyah Syafii Ma’arif, dan Tokoh NU KH Mustafa Bisri,pada Sabtu (16/5) malam, perbincangan seputar buku itu, bermunculan, di berbagai media, cetak, tulis, maupun radio, disitus-situs perbincangan ini lebh dahsyat lagi, berbagai komunitas menggelar forum diskusi yang memanas, bahkan sampai-sampai saling umpat, saling hina antar sesama muslim, na’uzubillah. Buku itu berjudul Ilusi Negara Islam

Menurut salah seorang blogger dalam blognya guhpraset.co.cc Sekilas buku itu mencoba untuk menjelaskan tentang :
Bagaimana sebenarnya pandangan dan respon para agen garis keras terhadap isu-isu sosial politik dan keagamaan di Indonesia akhir-akhir ini?
Bagaimana peta gerakan-gerakan Islam transnasional dan kaki tangannya di Indonesia saat ini?
Apa yang menjadi agenda perjuangan kelompok-kelompok garis keras dan bagaimana agenda itu dikaitkan dengan persoalan-persoalan Indonesia mutakhir?
Bagaimana strategi kelompok-kelompok garis keras dalam memperjuangakan agenda-agenda mereka dan menyusupkan agen-agen mereka ke tengah-tengah masyarakat?
Bagaimana hubungan kelompok-kelompok garis keras lokal dengan gerakan-gerakan Islam transnasional dari Timur Tengah?
Bagaimana pula hubungan kelompok-kelompok garis keras itu dengan kelompok-kelompok Islam yang berhaluan moderat?
Apakah kelompok-kelompok garis keras telah mampu mempengaruhi dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah dan NU?
Benarkah masjid dan institusi-institusi pendidikan telah dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok garis keras untuk menyebarkan paham mereka?
Bagaimana hubungan kelompok-kelompok garis keras dibangun dan bagaimana jaringan mereka dibentuk?

Namun menurut sebagian orang semua itu disajikan dengan pemikiran yang timpang, sepihak dan tidak objektif, dan pemikiran yang sempit. menurut Juru bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto dalam situs resminya bahwa buku itu tidak objektif karena menganggap semua organisasi adalah sama seperti DDII,MMI, PKS dan HTI, apalagi semua yang bertentangan dengannya disebut wahabi, dilajutkan oleh Ismail bahwa Ini jelas merupakan kesalahan berpikir yang sangat fatal, dan kalau tujuannya untuk mengungkap kebenaran, maka cara-cara seperti ini tidak akan pernah menemukan kebenaran apapun.

Belum lagi bantahan Fahri Hamzah, tokoh PKS ini dengan tegas mengatakan, dalam inilah.com "Dugaan saya, dana riset buku itu didapatan dari Bush. Itu merupakan proyek terakhir Bush sebelum kejatuhannya. Karena Bush memiliki kebijakan perang melawan terorisme," ujar Wasekjen PKS Fahri Hamzah kepada INILAH.COM di Jakarta,

Bantahan-bantahan itu wajar saja, karena dalam buku tersebut kedua organisasi ini jelas tertuding. Tudingan itu tanpa tedeng aling-aling, mengatakan bahwa mereka adalah bagian dari geliat “ISLAM GARIS KERAS” yang ada diIndonesia.

Sebenarnya apa dan siapa sih yang dikatakan Islam Garis Keras itu,? Ini mungkin yang harus didudukkan bersama, kesamaan persepsi,cara pandang akan ini masih beragam. Apakah orang yang rajin beribadah, tidak tinggal sholat, zakat, dan semua yang diwajibkan kepadanya adalah islam garis keras..??, apakah orang yang mencoba menerapkan ajaran Islam dalam seluruh aspek hidupnya adalah garis keras, jika demikian Rasulullah SAW, dan para sahabatnya dahulu adalah Islam garis keras..??, siapa lagi yang kita anut selain dari Beliau dan para sahabat beliau..??, atau ada karakteristik lain dengan kriteria tertentu, sehingga mampu dibedakan dengan umat islam pada umumnya.

Istilah-istilah seperti ini semakin membuat umat ini terpecah, dan menggiring pemahaman akan adanya beberapa karakteristik Umat. Bukankah agama islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW ini satu..??, jika iya, bukankah seharusnya karakteristik umatnya juga satu…??, nah mengapa sekarang tidak begitu, mengapa sekarang ada pembedaan, Islam garis keras, islam fundamentalis, islam demokrat, Islam nasionalis, dan entah islam-islam apalagi akan muncul.

Hal ini adalah kotak-kotak yang kita buat sendiri, mengapa kita membuat kotak-kotak yang nyata-nyata kontra produkti, entah siapa yang pertama-tama meembuat, menghembuskan istilah ini. Istilah-isltilah ini sangat menyusahkan umat, bahkan menjadi sumber malapetaka, sungguh amat jahil kiranya orang yang membuat, dan menghembuskan berbagai istilah ini di tengah umat. Atau…hal ini dihembuskan oleh oknum dari luar umat ini,…entahlah…!!!

Jika memang benar ada perbedaan karakteristik umat ini, menurut hemat saya hal itu terjadi karena perbedaan pandangan kita terhadap ajaran agama kita, untuk hal ini diperlukan pelurusan-pelurusan walaupun prosesnya tidak mudah. Ini adalah akar permasalahan, maka marilah kita pelajari kembali Islam dari Sumber yang satu, dan jelas yaitu alqur’an dan Sunnah.

Yang diperlukan sekarang adalah pemahaman akan kesatuan umat, Ummatan Wahidatan, suatu pemahaman bahwa umat ini adalah satu, karena aqidah ini adalah satu, tidak ada kompromi dalam hal itu, sudah saatnya semua kita kembali kepada sumber ajaran agama yang satu yaitu Alqur’an dan Assunah. Semua merujuk kepada aqidah yang satu. Jika ditemukan sudah menyimpang, dan jelas penyimpangannya maka harus diingatkan amar makruf nahi munkar harus ditegakkan.



Jika kita merujuk pada ajaran yang satu dengan sumber yang jelas, maka tidak ada lagi karakteristik-karakteristik itu, karena semua mempunyai karakteristik yang sama. Sebagaimana layaknya dulu Rasulullah dan para sahabat, bersatu, bahu membahu berjuang tuk tegakkan dien ini.

Jika demikian maka, umat ini satu karakteristik, satu kepribadian, satu pemahaman, maka tak ada lagi itu pembedaan/tidak dapat dibedakan mana garis keras dan bukan
Biarlah orang-orang mengembuskan pemahaman-pemahaman itu, entah dengan tedensi apa, jika umat ini solid, satu, padu, dalam segala hal maka hal itu tidak berpengaruh apa-apa,

Sehubungan dengan Negara Islam, terlepas ini adalah pemahaman garis keras atau bukan, tetapi agama kita adalah aturan hidup yang mengatur seluruh sendi kehidupan kita, sehingga tidak dapat dipisahkan antara agama dan kehidupan, karena agama adalah aturan untuk orang hidup bukan orang mati, nah bernegara, berpolitik, adalah salah satu sendi kehidupan ini, hal ini juga akan dimintai pertanggung jawaban di hari akhir kelak, maka demi kesatuan pandangan umat akan berpolitik dan bernegara, marilah kita kaji kembali bagaimana islam mengatur akan hal itu. Jika sudah demikian maka cara pandang kita terhadap hal yang satu ini akan sama, dan tidak ada perbedaan lagi mana garis keras mana yang bukan.

Jika memang benar saat ini ada perbedaan pandangan umat terhadap politik dan bernegara, hal ini dikarenakan umat tidak merujuk pada ajaran bagaimana Islam mengatur akan hal ini. Marilah kita kembali kepada sumber rujukan kita, karena itu adalah wasiat berharga yang ditinggal kan oleh Rasulullah, untuk kita umatnya.

Tidak akan ada kesatuan itu, manakala kita masih memilah dan memilih mana dari ajaran Islam yang enak/baik/menguntungkan bagi kita dan meninggalkan yang lain, karena masing-masing kita akan mengambil sebagian-sebagian sesuai dengan kehendak kita. Marilah kita pelajari secara utuh, dan memakainya secara utuh.

Seharusnya para pihak tertuding, jangan menaggapi buku itu dengan sikap emosional, lebih arif kiranya jika dibuka forum dialog dengan mengedepankan mental konstruktif bukan destruktif, dengan nash dan sumber yang jelas, sehingga yang terjadi bukan gonjang-ganjing dengan suhu memanas tetapi, dialog dari nash kenash, dengan tertib dan damai, karena pasti akan tampak kebenaran dan juga akan tampak kesalahan, karena kebenaran dari Allah SWT dan tidak dapat ditahan dan ditutupi.

Wallahu’alam


Tidak ada komentar :

Posting Komentar